JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas dunia diperkirakan masih menghadapi tekanan besar pada perdagangan pekan depan. Lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), penguatan dolar AS, serta kekhawatiran inflasi global dinilai dapat mendorong harga emas menjebol level psikologis US$ 4.500 per ons troi.
Dikutip dari Kitco News, harga emas sempat menunjukkan penguatan pada awal pekan dengan menyentuh area US$ 4.768 per ons troi. Namun, momentum tersebut tidak bertahan lama setelah pasar kembali fokus pada inflasi AS yang masih tinggi dan ekspektasi suku bunga tinggi The Fed.
Tekanan terhadap emas semakin besar setelah data inflasi konsumen (CPI) AS naik 0,6% pada April dan mencapai 3,8% secara tahunan. Sementara itu, indeks harga produsen (PPI) melonjak 1,4%, memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi masih sulit mereda.
Kondisi tersebut membuat pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini. Bahkan, sebagian pelaku pasar mulai memperhitungkan peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Di saat yang sama, yield obligasi pemerintah AS terus meningkat. Yield Treasury tenor 10 tahun naik ke level 4,54%, sedangkan yield obligasi tenor 30 tahun menembus 5,1%, tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Kenaikan yield dan penguatan dolar AS menjadi sentimen negatif utama bagi emas karena meningkatkan opportunity cost aset safe haven yang tidak memberikan imbal hasil.
Analis Bannockburn Global Forex Marc Chandler mengatakan level US$ 4.500 per ons troi kini menjadi area support penting bagi pergerakan emas dalam jangka pendek. “Jika level US$ 4.500 per ons troi ditembus, harga emas berpotensi melanjutkan penurunan menuju area US$ 4.350 per ons troi,” ujar Chandler.
Tren Bearish Emas