Gelombang Besar Aksi Jual Emas

Arah Harga Emas Pekan DepanArah Harga Emas Pekan Depan

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas dunia diperkirakan bergerak dalam rentang US$ 4.444 hingga US$ 4.800 per troy ounce pada pekan depan.

Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan harga emas berpotensi menyentuh support pertama di posisi Rp 4.444 per troy ounce, dari posisi Sabtu (16/5/2026) pagi yang sebesar US$ 4.538 per troy ounce.

“Apabila melemah, support pertama itu di Rp 4.444 per troy ounce. Apabila harga koreksi kembali, di-support kedua Rp 4.307 per troy ounce, ingat Rp 4.307 per troy ounce,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).

Sebaliknya, harga emas dunia juga masih mungkin untuk naik. Kenaikan bisa menyentuh resistance pertama di level US$ 4.639 per troy ounce pada pekan depan.

“Kalau seandainya naik lagi, resistance kedua yaitu di US$ 4.796. Ingat US$ 4.796 per troy ounce yang kemungkinan besar akan mendekati di level US$ 4.800 per troy ounce,” imbuh pakar emas tersebut.

Ibrahim menjelaskan, sentimen geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas. Salah satu perhatian pasar tertuju pada perkembangan hubungan AS, Iran, dan China terkait pembukaan Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump disebut sangat berharap Iran menyepakati pembukaan Selat Hormuz setelah pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping. Kesepakatan itu juga dikaitkan dengan upaya mengakhiri konflik antara Iran dan AS.

Namun demikian, dalam skenario tersebut, konflik Iran dan Israel diperkirakan masih akan berlangsung. Jika perang Iran-Israel berlanjut meski Selat Hormuz dibuka, harga emas diperkirakan kembali menguat.

“Tetapi kalau Amerika masih ikut campur, kemudian Iran masih memblokade Selat Hormuz, ini akan berbalik, maka harga emas dunia, logam mulia akan mengalami penurunan. Ini kita tinggal melihat situasi dan kondisi ke depan,” kata Ibrahim.

Selain itu, perundingan antara Libanon dan Israel juga diperpanjang, meski konflik di wilayah yang dikuasai Hizbullah di Libanon Selatan masih berlangsung.

Di sisi perdagangan global, Ibrahim menilai pertemuan Xi Jinping dan Trump berpotensi menghasilkan kesepakatan yang mengarah pada solusi saling menguntungkan bagi AS dan China. China disebut akan meningkatkan pembelian sejumlah komoditas AS, mulai dari produk pertanian, minyak mentah, hingga pesawat Boeing.

“Situasi tersebut akan menenangkan pasar. Ini membuat kemungkinan besar perang dagang sedikit mereda di antara Amerika dengan China,” ungkap Ibrahim.

Risiko Kembali Tergelincir

Share