JAKARTA, Detiktoday.com – Permintaan emas terus melihat penyusutan di negara konsumen logam mulia terbesar di dunia.
Dikutip dari Yahoo! Finance, Sabtu (23/5/2026) harga emas terus diperdagangkan dengan diskon besar di India minggu ini, karena volatilitas harga meredam permintaan, sementara premi mereda di China.
Para pedagang di India mematok diskon pada emas hingga US$ 78 per ons di atas harga domestik resmi minggu ini, termasuk bea impor 15% dan bea penjualan 3%.
“Pembeli ritel agak bingung dengan fluktuasi harga baru-baru ini setelah pemerintah menaikkan bea impor awal bulan ini. Sebagian besar dari mereka hanya menunggu harga stabil,” kata seorang pedagang emas perhiasan yang berbasis di Kolkata, India.
Negara konsumen emas terbesar kedua di dunia itu resmi menaikkan tarif impor emas dan perak menjadi 15% dari 6% sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi pembelian logam dari luar negeri, dan mengurangi tekanan pada cadangan devisa akibat lonjakan harga minyak.
Para pedagang emas perhiasan enggan menambah stok karena musim acara pernikahan akan segera berakhir dan ketidakpastian masih berlanjut mengenai permintaan ritel, ungkap seorang pedagang emas batangan yang berbasis di Mumbai dari sebuah bank swasta.
Sementara itu, di Tiongkok, harga emas batangan diperdagangkan dengan premi US$ 10 hingga US$ 20 per ons di atas harga patokan global, dibandingkan dengan premi minggu sebelumnya sebesar US$ 15 hingga US$ 20.
“Kekhawatiran akan kenaikan suku bunga The Fed, kenaikan imbal hasil obligasi, dan penguatan dolar AS terus menekan harga emas di Tiongkok,” kata Bernard Sin, direktur regional Greater China di MKS PAMP.
Dolar yang lebih kuat membuat harga emas yang dipatok dalam dolar AS menjadi mahal bagi pemegang mata uang lain, sementara imbal hasil obligasi yang tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang logam mulia.
“Dalam jangka pendek, permintaan emas fisik tetap terjepit antara permintaan tempat berlindung yang aman akibat konflik dan hambatan yang disebabkan oleh kebijakan,” ungmap Bernard Sin.