WASHINGTON, Detiktoday.com – Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan balasan terhadap Iran pada Selasa malam. Tindakan ini diambil menyusul insiden ditembak jatuhnya helikopter Apache milik militer AS di atas Selat Hormuz.
Hal ini sekaligus juga meruntuhkan gencatan senjata rapuh yang sebelumnya diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump, seperti dikutip BeInCrypto, Rabu (10/6/2026).
Langkah militer AS ini memicu volatilitas instan di pasar keuangan global, terutama pada aset Bitcoin, emas, dan minyak, yang mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi konflik yang lebih luas.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi serangan balasan tersebut dilakukan sebagai tindakan bela diri yang proporsional terhadap agresi Iran. Meski kru helikopter berhasil diselamatkan, insiden ini memicu kecaman keras dari pihak Iran yang menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap gencatan senjata.
Eskalasi ini terjadi di tengah berlangsungnya Operation Epic Fury yang dimulai sejak akhir Februari 2026, sebuah kampanye militer AS dan Israel yang menyasar kemampuan militer serta nuklir Iran. Ketidakpastian geopolitik ini membuat investor cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman (safe haven).
Gejolak pada Bitcoin, Emas, dan Minyak
Berikut adalah dampak dari ketegangan tersebut terhadap pasar utama:
– Bitcoin: Mata uang kripto ini anjlok di bawah US$ 62.000 atau turun sekitar 2% dalam 24 jam terakhir. Investor tampak melepas aset berisiko di tengah kekhawatiran konflik regional yang lebih luas.
– Emas: Meskipun biasanya dianggap sebagai aset pelindung, harga emas justru melemah di kisaran US$ 4.220. Hal ini disebabkan oleh menguatnya nilai tukar dolar AS dan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, yang menekan aset tanpa imbal hasil.
– Minyak: Harga minyak mentah Brent melonjak ke angka US$ 93 per barel akibat kekhawatiran terganggunya pasokan di Selat Hormuz, jalur krusial yang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Kenaikan harga energi yang terjadi saat ini menjadi ancaman bagi inflasi global dan berpotensi menunda kebijakan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral.
Selat Hormuz merupakan salah satu titik paling strategis dalam ekonomi dunia. Sebagai jalur perlintasan utama bagi kapal tanker minyak dari produsen besar di Teluk Persia, setiap gangguan militer di wilayah ini dipastikan akan memicu kepanikan di pasar energi global
Ketegangan yang berkelanjutan di kawasan ini, terutama antara AS dan Iran, terus menjadi faktor utama yang memengaruhi inflasi, harga komoditas, dan stabilitas kebijakan moneter dunia. Dengan statusnya sebagai chokepoint energi, setiap gesekan di Selat Hormuz akan langsung tercermin pada volatilitas pasar saham dan aset digital di seluruh dunia.