JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas tengah dalam tren pelemahan dan memasuki tren di bawah rata-rata pergerakannya selama 200 hari (DMA), karena kekuatan pasar tenaga kerja dan inflasi Amerika Serikat yang meningkat memperkuat ruang bagi bank sentral mempertahankan suku bunga.
Dikutip dari Kitco News, Kamis (11/6/2026), kepala strategi komoditas di Saxo Bank, Ole Hansen memproyeksi harga emas bisa kembali terkoreksi hingga ke level di bawah US$ 4.075 per troy ounce. Meski demikian, ia tetap optimis fundamental jangka panjang emas tetap bertahan.
Pada hari Rabu (10/6), harga emas terlihat sudah jatuh 0,73% ke level US$ 4.044,04 per troy ounce.
“Meskipun skenario bullish jangka panjang tetap utuh, pasar emas saat ini didorong oleh serangkaian kekuatan yang sangat berbeda,” kata pakar emas tersebut.
“Sejak pertengahan April, emas diperdagangkan lembah imbas dari kekhawatiran inflasi yang didorong oleh (lonjakan harga) energi, dengan investor fokus pada kenaikan harga minyak, ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, imbal hasil obligasi yang lebih kuat, dan dolar AS yang kuat,” beber Hansen.
Menurut Hansen, selama konflik di Timur Tengah terus mengancam pasokan energi global dan membuat risiko inflasi tetap tinggi, investor kemungkinan akan tetap fokus pada prospek suku bunga yang tinggi dalam jangka waktu lama daripada peran tradisional emas sebagai diversifikasi portofolio.
Ia menyebut, harga emas perlu kembali ke level US$ 4.500 per troy ounce sebelum kembali menyentuh sebelum menantang rata-rata pergerakan 50 hari di dekat US$ 4.600 per troy ounce.
“Sampai saat itu, para pedagang kemungkinan akan tetap fokus pada risiko penurunan sementara. Investor jangka panjang menunggu katalis yang mampu mengalihkan perhatian dari kekhawatiran inflasi dan kembali ke pendorong struktural yang mendukung pasar bullish yang lebih luas,”papar Hansen.