JAKARTA, Detiktoday.com – Angin segar kini berhembus ke ANTM, AMMN, BUMI, TINS, dan BMRI. Simak juga target harga saham ANTM, AMMN, BUMI, TINS, dan BMRI.
Kalangan analis berpendapat bahwa beralih ke saham bank besar yang harganya murah dan saham emiten yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS, khususnya di sektor logam dan batu bara, bisa menjadi strategi jitu di tengah fluktuasi pasar saat ini.
“Untuk saham emiten logam dan batu bara berbasis pendapatan dolar AS, pilihan utama kami adalah Antam (ANTM), Amman Mineral Internasional (AMMN), Bumi Resources (BUMI), dan Timah (TINS),” tulis Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi dan tim dalam risetnya, dikutip pada Minggu (14/6/2026).
Menurut Prasetya, kebijakan pertambangan yang dinilai lebih ramah dunia usaha – antara lain tidak adanya kenaikan royalti, penerapan skema gross split, dan status pemasok tunggal – menjadi salah satu dasar utama pandangan bahwa pasar komoditas telah mendekati titik dasar (bottoming).
Selain itu, risiko kebijakan yang sebelumnya menekan saham-saham komoditas mulai berkurang, setelah pemerintah meningkatkan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada semester II-2026.
“Karena itu, kami menilai peluang penurunan lebih lanjut pada saham komoditas relatif terbatas dari sisi kebijakan, meskipun kepercayaan investor masih membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya sampai struktur harga dan margin dari kebijakan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menjadi lebih jelas,” ungkap dia.
Adapun alasan utama pemilihan ANTM, selain memiliki eksposur terhadap harga emas, saham ANTM juga merupakan kandidat terkuat untuk kembali masuk indeks MSCI pada Agustus 2026.
Sedangkan AMMN menawarkan pendapatan berbasis dolar AS dari bisnis tembaga dan emas. Risiko tekanan akibat penghapusan saham AMMN dari indeks MSCI pada 29 Mei kini telah berlalu.
Selanjutnya, BUMI yang memberikan eksposur tinggi terhadap harga jual rata-rata (average selling price/ASP) batu bara yang berbasis dolar AS. Namun, proses transisi menuju skema DSI dengan tenggat waktu 31 Desember 2026 tetap menjadi faktor yang perlu dipantau.
Rekomendasi dan Target Harga Saham