JAKARTA, Detiktoday.com – Riset terbaru dari Forum Lembaga Moneter dan Keuangan Resmi (OMFIF) menunjukkan bahwa bank-bank sentral global tetap optimis terhadap prospek harga emas, meski tengah memasuki tren penurunan.
Dikutip dari Kitco News, Rabu (1/7/2026) 61% bank sentral yang disurvei OMFIF memperkirakan harga emas akan diperdagangkan antara US$ 5.000 dan US$ 6.000 per ons pada tahun 2027 mendatang, sementara hanya 28% yang mengatakan harga emas yang tinggi menghambat pembelian tambahan.
“Harga emas tidak akan berubah. Para pengelola cadangan bank sentral masih sangat optimis terhadap emas. Meskipun nilai emas itu sendiri terus meningkat, mereka tetap membutuhkannya,” ungkap Kepala Penelitian di OMFIF, Andrea Correa.
Survei OMFIF terhadap 74 bank sentral yang mengelola aset senilai lebih dari US$ 10 triliun menunjukkan, 82% responden memegang emas fisik, naik dari 71% tahun yang lalu.
Emas menempati peringkat sebagai aset cadangan yang paling dicari di antara semua kelas aset yang disurvei OMFIF.
Correa mengatakan, salah satu temuan paling signifikan dari laporan tersebut adalah perluasan berkelanjutan dalam jumlah bank sentral yang memegang emas batangan fisik.
“Jumlah bank sentral yang memegang emas fisik meningkat sekitar 10 poin persentase, yang menurut saya merupakan peningkatan yang sangat besar, dan terus meningkat setiap tahun,” bebernya.
OMFIF juga mencatat, diversifikasi menjadi alasan utama bank sentral ingin terus menambah kepemilikan emas. Namun, kekhawatiran geopolitik juga menjadi faktor yang terus diperhatikan.
Dalam survei OMFIF, perlindungan terhadap risiko geopolitik disebutkan oleh 51% manajer cadangan sebagai alasan untuk menyimpan emas, naik 11 poin persentase dari tahun 2024. Pada saat yang sama, ketidakpastian seputar sistem moneter internasional terus memperkuat peran emas sebagai aset cadangan jangka panjang daripada investasi taktis, ungkap OMFIF.
“Tren yang kita lihat sebenarnya bersifat global,” kata Correa.
“Ketika kita berbicara tentang kepemilikan emas fisik, trennya beragam. Negara-negara Eropa mengatakan mereka tidak akan menambah (kepemilikan emas) karena sudah memiliki begitu banyak, sedangkan bank sentral di Afrika memilih untuk meningkatkan kepemilikan emas fisik mereka,”
Laporan Investor Publik Global OMFIF 2026 juga menyoroti emas telah menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik, kekhawatiran atas utang negara, dan evolusi bertahap menuju sistem moneter yang lebih multipolar.