JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas terus menghadapi tekanan imbas sentimen lonjakan harga minyak, yang memicu kenaikan inflasi. Meski demikian, aksi beli emas tetap marak.
Prospek emas juga meredup seiring sikap kehati-hatian bank-bank sentral global dalam mengambil kebijakan moneter, dengan ekspektasi penurunan suku bunga semakin jauh, meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas sebagai aset yang tidak menghasilkan imbal hasil.
Namun, terlepas dari tantangan-tantangan tersebut, fundamental emas dinilai tetap kuat, World Gold Council (WGC).
WGC melaporkan bahwa total permintaan emas pada kuartal pertama 2026 naik 2% secara tahunan menjadi 1.231 ton, sementara nilainya melonjak 74% menjadi rekor US$ 193 miliar.
Permintaan investasi emas juga terus mendominasi, dengan pembelian emas batangan dan emas koin melonjak 42% menjadi 474 ton. Ini merupakan tingkat kuartalan tertinggi kedua yang pernah tercatat.
Lonjakan permintaan fisik ini, khususnya dari Asia, menandakan bahwa investor masih beralih ke emas sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian.
“Ini juga menjelaskan mengapa sentimen bullish belum runtuh, bahkan ketika harga terkonsolidasi,” kata WGC, dikutip dari Kitco News, Senin (4/5/2026).
WGC juga mengutip proyeksi sejumlah analis bahwa pendorong jangka panjang reli emas tetap bertahan. Salah satunya, Bank of America mempertahankan prediksi harga emas di level US$ 6.000 per troy ounce, didukung oleh faktor meningkatnya utang global dan risiko geopolitik.
“Emas mungkin terlihat rentan dalam jangka pendek, tetapi gambaran besarnya tidak berubah. Dengan meningkatnya tingkat utang dan semakin dalamnya keretakan geopolitik, emas tetap berada dalam pasar bullish jangka panjang, bahkan jika jalur kenaikannya menjadi lebih fluktuatif,” ungkap WGC.