Jakarta, Detiktoday.com — Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta untuk segera membeberkan strategi konkret penanganan sampah jangka pendek, menengah, dan panjang.
Langkah ini dinilai mendesak menyusul rencana pembatasan pembuangan sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang akan berlaku mulai 1 Agustus 2026.
Yuke menegaskan bahwa pembatasan tersebut tidak boleh memicu masalah baru di Ibu Kota. Oleh karena itu, optimalisasi tempat pengolahan sampah berprinsip 3R (reduce, reuse, recycle) di seluruh wilayah Jakarta harus digenjot habis-habisan.
Baca: Ini Deretan Program Ganjar Pranowo
“Pengolahan sampah perlu peningkatan, dan kami perlu mengetahui strategi penanganan sampah jangka pendek, menengah, dan panjang,” ujar Yuke Yurike di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Menurut Yuke, kebijakan pembatasan di Bantargebang wajib dibarengi dengan gerakan baru yang masif, salah satunya adalah pemilahan sampah langsung dari sumbernya. Namun, ia memberikan catatan kritis mengenai konsistensi alur pengangkutan sampah pascapemilahan.
“Yang menjadi concern (perhatian) kita adalah, setelah dipilah, itu diangkutnya bagaimana? Jangan sampai setelah warga pilah, malah digabung lagi saat diangkut,” kritik Yuke.
Lebih lanjut, Yuke menyoroti nasib pengelolaan sampah organik yang produksinya cukup besar. Jika sistem pengangkutan dan penampungan akhir pascapemilahan tidak dikelola secara berkelanjutan, gerakan pilah sampah ini akan sia-sia.
“Kalau di Bantargebang sudah mulai tidak boleh untuk sampah organik, kita juga harus siap mengolahnya di sini. Makanya, TPS 3R di wilayah Jakarta perlu dioptimalkan karena ini kunci untuk mengurangi volume sampah yang dikirim ke Bantargebang,” tegas Politikus PDI Perjuangan tersebut.
Baca: Ternyata Ganjar Pranowo Bukan Nama Asli
Menanggapi desakan tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, mengakui bahwa performa TPS 3R di 31 titik wilayah DKI Jakarta saat ini memang belum maksimal.
Dudi memaparkan, TPS 3R di Jakarta sebenarnya diproyeksikan mampu mengolah hingga 710 ton sampah per hari. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain.
“Saat ini ternyata baru mengolah 146 ton sampah, sisanya belum bisa diolah,” aku Dudi.