BEIJING, Detiktoday.com – Bank sentral China (People’s Bank of China/ PBoC) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pinjaman acuan tetap stabil selama 11 bulan berturut-turut pada Senin (20/4/2026). Langkah ini diambil seiring dengan pertumbuhan ekonomi domestik yang menguat, meskipun risiko eksternal akibat konflik di Timur Tengah mulai membayangi prospek pertumbuhan global.
PBoC tetap mempertahankan suku bunga pinjaman utama (Loan Prime Rate/ LPR) satu tahun di level 3,0%. Suku bunga ini merupakan acuan bagi sebagian besar pinjaman baru dan korporasi. Sementara itu, LPR lima tahun, yang menjadi rujukan untuk bunga KPR, juga bertahan di angka 3,5%.
Keputusan untuk tidak mengubah suku bunga ini muncul setelah ekonomi China mencatatkan pertumbuhan 5% pada kuartal I-2026. Angka ini menunjukkan percepatan dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 4,5%, sekaligus menempatkan posisi ekonomi China berada di batas atas target tahunan pemerintah.
Selain pertumbuhan yang kuat, tekanan deflasi di Negeri Tirai Bambu tersebut mulai memudar. Indeks harga produsen (PPI) melonjak 0,5% pada Maret 2026 kenaikan pertama dalam lebih dari tiga tahun. Hal ini menandakan tekanan biaya impor akibat lonjakan harga minyak dunia mulai meresap ke dalam ekonomi China.
Sikap Wait and See Terhadap Konflik Global
Para pembuat kebijakan di Beijing tampaknya memilih untuk bersikap waspada. Kenaikan inflasi domestik dan risiko lonjakan harga energi akibat ketegangan di Timur Tengah membuat urgensi untuk memberikan stimulus tambahan atau pemotongan suku bunga menjadi berkurang.
“Pemerintah memerlukan waktu untuk mengevaluasi dampak ketidakpastian eksternal di tengah konflik Timur Tengah,” ujar Kepala Ekonom China UBS Securities Yu Song sebagaimana dikutip CNBC internasional, Senin.
Dalam pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington pekan lalu, Gubernur PBOC Pan Gongsheng memperingatkan meningkatnya ketegangan geopolitik dan hambatan perdagangan dunia dapat memicu volatilitas pasar keuangan. Ia menyerukan koordinasi kebijakan internasional yang lebih kuat demi menjaga stabilitas finansial global.
Meskipun tidak memangkas suku bunga, PBOC berkomitmen untuk tetap menjaga sikap moneter yang “mendukung” guna menyokong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sembari menjaga stabilitas nilai tukar Yuan.
Memasuki 2026, pemerintah China menetapkan target pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,5% hingga 5%. Target ini dianggap sebagai salah satu yang paling konservatif dalam sejarah modern China sejak era 1990-an, mencerminkan fokus otoritas China pada kualitas pertumbuhan daripada sekadar kuantitas.
Stabilitas ekonomi ini sangat krusial karena China sedang berupaya beralih dari model ekonomi berbasis properti ke arah industri teknologi tinggi dan energi terbarukan. Namun, tantangan global kini menjadi hambatan utama.
Konflik bersenjata yang pecah di Timur Tengah sejak awal tahun telah menyebabkan gangguan pada jalur pelayaran internasional dan melonjaknya harga minyak mentah.
Bagi China sebagai importir energi terbesar dunia, kenaikan harga minyak adalah pedang bermata dua. Di satu sisi dapat mengakhiri tren deflasi yang menghantui setahun terakhir, namun di sisi lain berisiko meningkatkan biaya produksi yang dapat menghambat daya saing ekspor mereka.