Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Sabtu 18 April 2026, Cek RinciannyaHarga Emas Perhiasan Hari Ini, Sabtu 18 April 2026, Cek RinciannyaHarga Emas Perhiasan Hari Ini, Sabtu 18 April 2026, Cek Rinciannya

Emas Perhiasan Redam Inflasi April 2026, tapi Efeknya SementaraEmas Perhiasan Redam Inflasi April 2026, tapi Efeknya Sementara

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas perhiasan yang terkoreksi tajam menjadi penyelamat laju inflasi nasional pada April 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulanan (month to month) tercatat sebesar 0,13%, melandai signifikan dibandingkan capaian Maret 2026 yang menyentuh angka 0,41%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi peredam utama inflasi bulan ini. Komoditas emas perhiasan mencatatkan deflasi sebesar 3,76% dengan andil terhadap deflasi sebesar 0,09%. Tingkat deflasi kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya ini merupakan yang terdalam sejak Januari 2020.

“Pada April 2026, emas perhiasan mengalami deflasi sebesar 3,76% dan andil deflasi 0,09%, lebih dalam dibandingkan Maret 2026,” ucap Ateng dalam konferensi pers di Gedung BPS pada Senin (4/5/2026).

Fenomena ini sekaligus memutus tren kenaikan harga emas yang sempat terjadi selama 30 bulan berturut-turut sejak September 2023. Meski emas memberikan andil deflasi, tekanan inflasi secara keseluruhan masih muncul dari sektor transportasi yang meroket 0,99% dengan andil 0,12%. Kenaikan ini dipicu oleh melambungnya tarif angkutan udara akibat kenaikan harga avtur global serta harga BBM nonsubsidi.

Selain transportasi, sejumlah komoditas pangan seperti minyak goreng, tomat, beras, dan nasi lauk-pauk juga turut menyumbang inflasi. Secara spasial, 30 provinsi masih mengalami inflasi dengan angka tertinggi di Papua Barat (2%), sementara 8 provinsi mengalami deflasi dengan titik terdalam di Maluku (0,17%).

Tingkat inflasi  tahun kalender (year to date/ytd) pada April 2026 sebesar 1,06%. Sedangkan tingkat inflasi tahunan (year on year/yoy) mencapai 2,42%. Adapun pemerintah menargetkan inflasi pada tahun 2026 adalah 2,5±1%.

Indikator makroekonomi Indonesia. (Ilustrasi: Investor Daily/Datasatu)

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai deflasi emas adalah dampak koreksi aset safe haven global dan penguatan dolar AS, bukan cerminan melemahnya daya beli. Namun, ia mengingatkan pemerintah agar tidak terlena karena efek peredam dari emas ini bersifat temporer, sehingga membuat angka inflasi terlihat lebih jinak.

“Dampaknya positif bagi headline inflasi, tetapi pembacaan kebijakan perlu memisahkan ‘inflasi turun karena emas turun’ dari ‘inflasi turun karena biaya hidup melemah’ agar keputusan stabilisasi tetap tepat sasaran,” tutur Syafruddin.

Untuk ke depannya, deflasi emas akan memberi dua efek yang berlawanan. Di satu sisi, dapat menahan inflasi total dan membantu otoritas menjaga inflasi dalam rentang sasaran tanpa pengetatan berlebihan. Di sisi lain, ia bisa bersifat sementara dan mudah berbalik bila harga emas global pulih atau rupiah melemah, sehingga kontribusi emas dapat berubah dari penahan inflasi menjadi pendorong inflasi.

Ilustrasi harga emas perhiasan Sumber; David Gita Roza (B-Universe)

“Oleh karena itu, deflasi emas tidak boleh dijadikan jangkar optimisme; pemerintah perlu menilai inflasi inti, inflasi pangan bergejolak, serta transmisi kurs dan energi untuk membaca arah inflasi yang lebih permanen,” terang Syafruddin.

Syafruddin berpendapat pemerintah perlu menutup sumber transmisi inflasi yang paling cepat menyebar yaitu pangan dan energi, agar inflasi terjaga dalam sasaran. Dengan demikian, pemerintah perlu memperkuat manajemen pasokan pangan melalui operasi pasar yang tepat waktu, kelancaran distribusi antardaerah, dan penguatan  manajemen rantai pasok yang menggunakan teknologi pendingin (cold chain) untuk komoditas tertentu, disertai pengendalian biaya logistik pelabuhan dan transportasi.

“Di sisi energi, pemerintah perlu memastikan kebijakan harga yang kredibel dan terukur, memperbaiki efisiensi subsidi agar tidak memicu lonjakan permintaan impor energi, serta mempercepat substitusi dan efisiensi energi di sektor transportasi dan industri,” terang Syafruddin.

Efek Sementara

Share