SINGAPURA, Detiktoday.com – Harga emas dunia bergerak stabil di tengah fluktuasi pasar pada perdagangan Rabu (29/4/2026). Para investor kini bersikap waspada sembari menantikan pernyataan Ketua Dewan Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell guna mengukur dampak ekonomi akibat perang di Iran yang kian berkepanjangan.
Di pasar spot, harga emas naik tipis 0,1% ke level US$ 4.597,07 per ons pada pukul 02.43 GMT, setelah sebelumnya sempat menyentuh titik terendah sejak awal April 2026. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni stabil di posisi US$ 4.610,20 sebagaimana dikutip Reuters, Rabu.
Menanti Keputusan The Fed dan Tekanan Inflasi
Pasar memperkirakan Bank Sentral AS akan mempertahankan suku bunga tetap stabil dalam pertemuan kebijakan dua hari ini. Namun, sorotan utama tertuju pada kesiapan The Fed dalam melakukan intervensi jika kondisi ekonomi memburuk akibat konflik geopolitik.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent yang bertahan di atas US$ 110 per barel akibat blokade pelabuhan Iran oleh AS turut menambah tekanan. Tingginya harga energi memicu kekhawatiran inflasi yang dapat memaksa suku bunga tetap tinggi dalam waktu lama.
Kondisi ini yang biasanya menekan daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.
Kebuntuan Diplomasi
Upaya perdamaian di Iran saat ini berada di titik buntu. Presiden AS Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap usulan terbaru dari Iran, sembari mengeklaim bahwa kepemimpinan Iran tengah berada dalam kondisi kritis atau “ambang keruntuhan”.
“Kami memperkirakan pergerakan harga emas akan rapuh dalam jangka pendek. Namun, secara struktural emas tetap berpotensi menguji rekor tertinggi baru seiring masih kuatnya faktor pendorong seperti ketegangan geopolitik dan ketidakpastian perdagangan,” tulis Standard Chartered dalam laporannya.
Gejolak di pasar komoditas ini bermula dari pecahnya perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran pada akhir Februari 2026. Konflik tersebut melumpuhkan jalur pengiriman energi di Selat Hormuz, memicu lonjakan harga minyak mentah secara drastis, dan menciptakan ketidakpastian ekonomi global.
Di saat bersamaan, emas kembali menjadi aset aman (safe haven) bagi investor dunia di tengah ancaman inflasi tinggi dan hambatan perdagangan internasional yang timbul akibat sanksi serta blokade ekonomi.