JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas dunia terus mengalami pelemahan pada bulan Mei 2026, karena konflik di Iran mendukung imbal hasil dan dolar AS sekaligus mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga.
Namun, pakar memprediksi harga emas akan kembali didukung oleh sejumlah faktor, yaitukekhawatiran terkait lonjakan utang, risiko de-dolarisasi, inflasi yang tinggi, dan permintaan emas di antara bank-bank sentral yang stabil.
Dikutip dari Kitco News, Rabu (3/6/2026), kepala strategi komoditas di Saxo Bank, Ole Hansen mencatat bahwa harga emas telah merosot untuk bulan ketiga berturut-turut pada Mei 2026.
“Meskipun terjadi penurunan baru-baru ini, harga emas tetap naik 5% sejauh ini pada 2026, 36% selama setahun terakhir dan 91% selama dua tahun terakhir,” kata Hansen.
Terkait gambaran teknis, Hansen mengatakan bahwa harga emas terus mendapat dukungan di dekat rata-rata pergerakan 200 hari, saat ini di dekat level US$ 4.400 per troy ounce.
“Pasar telah menguji level ini dua kali selama koreksi baru-baru ini dan setiap kali menarik minat beli yang baru. Meskipun ini tidak menghilangkan risiko pelemahan jangka pendek lebih lanjut, hal ini menunjukkan bahwa investor jangka panjang tetap aktif di bawah pasar,” jelasnya.
“Untuk saat ini, banyak investor tampaknya puas menunggu kejelasan yang lebih besar mengenai konflik di Timur Tengah sebelum meningkatkan eksposur (terhadap emas). Namun, begitu perhatian beralih dari fluktuasi harian harga energi dan berita geopolitik, kami percaya pasar akan sekali lagi fokus pada pendorong struktural yang membantu menopang harga emas dalam beberapa tahun terakhir,” imbuh Hansen.
Hal inilah yang menjadi dasar bagi Hansen untuk mempertahankan prospek harga emas dalam jangka panjang di tahun-tahun mendatang, terutama jika tren diversifikasi cadangan, ekspansi fiskal, dan de-dolarisasi terus mendapatkan momentum.”
Penyebab Harga Emas Terkoreksi