NEW YORK, Detiktoday.com – Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Rabu (6/5/2026). Merosotnya harga emas hitam ini dipicu oleh laporan yang menyebutkan, pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin dekat dengan kesepakatan untuk mengakhiri konflik bersenjata yang sempat memanas.
Berdasarkan data perdagangan, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juli merosot 5,4% ke posisi US$ 103,88 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS jatuh lebih dalam hingga 6,3% ke level US$ 95,79 per barel seperti dipantau CNBC internasional, Rabu.
Sentimen pasar berubah drastis setelah laporan dari Axios, yang mengutip pejabat AS, menyatakan pemerintah AS yakin tengah mendekati penandatanganan nota kesepahaman (MoU).
Kesepakatan tersebut kabarnya akan menjadi dasar untuk mengakhiri perang sekaligus membentuk kerangka kerja untuk pembicaraan nuklir yang lebih rinci.
Sinyal Deeskalasi dari Gedung Putih
Kabar damai ini semakin diperkuat oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump melalui unggahan di media sosial Truth Social.
Trump mengumumkan pemerintah AS akan menghentikan sementara “Project Freedom“, operasi militer yang baru diluncurkan sehari sebelumnya untuk mengawal kapal komersial di Selat Hormuz.
Langkah penghentian sementara ini diambil karena adanya kemajuan signifikan dalam negosiasi dengan Iran menuju kesepakatan akhir.
Sebelumnya, blokade yang terjadi di Selat Hormuz telah menyebabkan sekitar 23.000 pelaut dari 87 negara terdampar di Teluk Persia. Penutupan jalur pelayaran vital ini sempat memicu kekhawatiran akan kelangkaan pasokan energi global.
Dampak Jangka Panjang Tetap Diwaspadai
Meski kabar kesepakatan ini memberikan sentimen positif bagi pasar, para ahli memperingatkan pemulihan tidak akan terjadi dalam semalam. Nicolo Bocchin dari Azimut Group mencatat lonjakan biaya energi sebelumnya sudah mulai merusak tingkat permintaan global.
“Sekalipun jalur perairan tersebut dibuka kembali hari ini, normalisasi arus pelayaran dan perdagangan internasional masih akan membutuhkan waktu berminggu-minggu,” jelas Bocchin.
Selat Hormuz merupakan jalur urat nadi perdagangan minyak dunia yang menghubungkan produsen minyak di Timur Tengah dengan pasar global. Hampir seperlima dari total konsumsi minyak dunia melintasi selat sempit ini setiap harinya.
Konflik terbaru yang melibatkan AS dan Iran, yang puncaknya ditandai dengan peluncuran “Operation Epic Fury” oleh AS, sempat menyebabkan penutupan efektif jalur pelayaran ini. Blokade tersebut memicu lonjakan harga energi ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, meningkatkan beban inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Upaya deeskalasi melalui nota kesepahaman yang kini tengah digodok diharapkan dapat menstabilkan kembali pasar energi global dan mencegah krisis ekonomi yang lebih dalam akibat gangguan rantai pasok minyak mentah.