NEW YORK, Detiktoday.com – Harga minyak dunia melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Kamis (25/6/2026) setelah sebuah kapal kargo terkena proyektil di dekat Oman. Insiden tersebut kembali memicu kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup naik US$ 1,52 (2,1%) ke level US$ 75,26 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat US$ 1,58 (2,3%) menjadi US$ 71,92 per barel.
Kenaikan harga terjadi setelah Organisasi Maritim Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (IMO) menghentikan sementara upaya pengawalan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Keputusan itu diambil menyusul laporan dugaan serangan terhadap sebuah kapal kargo di kawasan tersebut.
Insiden ini kembali memunculkan kekhawatiran bahwa kesepakatan awal antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri perang belum sepenuhnya menjamin stabilitas kawasan.
Setelah perdagangan ditutup, dua pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa Iran melepaskan tembakan ke arah kapal kargo yang sedang melintasi Selat Hormuz. Sementara itu, otoritas Iran menyatakan keamanan kapal yang berlayar di luar jalur pelayaran resmi Hormuz tidak dapat dijamin.
Arus pengiriman minyak dan gas melalui Selat Hormuz sebelumnya mulai pulih setelah tercapainya kesepakatan penghentian perang antara AS dan Iran. Namun, insiden terbaru kembali meningkatkan risiko terganggunya distribusi energi global.
Sebelum konflik pecah, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz yang berada di antara Iran dan Oman.
Analis Rystad Energy memperingatkan, apabila lalu lintas kapal tanker tidak segera kembali normal, produsen minyak kemungkinan harus mengurangi produksi karena kapasitas penyimpanan di kawasan Teluk mulai penuh.
“Tangki penyimpanan di kawasan Teluk saat ini telah terisi sekitar 50%-60%. Jika pengiriman melalui Selat Hormuz tidak segera meningkat, produsen harus menahan produksi dan pemulihan penuh baru berpotensi terjadi tahun depan,” tulis Rystad Energy dalam laporannya.
AS Tegaskan Kebebasan Navigasi