Saham BMRI dan BBCA Dicicil

Saham BMRI dan BBCA Dicicil

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) diserok tipis-tipis oleh investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (9/7/2026). Begitu juga dengan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Investor asing mencetak transaksi beli bersih (net buy) saham BMRI sebesar Rp 87,4 miliar. Pembelian terjadi di pasar reguler Bursa Efek Indonesia, berdasarkan data Stockbit Sekuritas.

Net buy asing pada saham BMRI merupakan yang terbesar dibandingkan saham-saham lainnya. Diikuti, saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dengan net buy asing senilai Rp 40,5 miliar.

Investor asing juga tercatat net buy saham BBCA sebesar Rp 34,8 miliar.

Sebaliknya, transaksi jual bersih (net sell) terbanyak oleh investor asing melanda saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencapai Rp 191,4 miliar.

Kemudian, saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Net sell asing pada saham MAPI senilai Rp 129,9 miliar.

Secara umum, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 259,3 miliar di seluruh pasar pada Kamis (9/7/2026). Dengan begitu, total net sell asing sepanjang tahun berjalan ini kembali bertambah menjadi Rp 75,7 triliun – berdasarkan data BEI.

Sementara itu, MNC Sekuritas mempertahankan saham BBCA dan BMRI sebagai pilihan utama di sektor perbankan.

Rekomendasi untuk saham BBCA adalah buy dengan target harga Rp 8.700. BBCA didukung profil laba yang defensif serta kualitas aset terbaik di kelasnya.

MNC Sekuritas juga merekomendasikan buy saham BMRI. Target harga saham BMRI dipatok sebesar Rp 6.050. Itu karena momentum laba dan PPOP BMRI menjadi yang terdepan di sektor perbankan.

Secara sektoral, MNC Sekuritas mempertahankan pandangan overweight terhadap sektor perbankan. Artinya, sektor ini layak memiliki porsi lebih besar dalam portofolio dibandingkan bobot acuannya, karena valuasi saat ini sudah banyak mencerminkan potensi risiko penurunan. Sementara, imbal hasil dividen masih menarik dan kualitas aset tetap stabil.

Adapun risiko penurunan utama yang perlu dicermati adalah likuiditas yang makin ketat serta potensi tren kualitas aset yang lebih lemah dari perkiraan.

Share