Detiktoday.com, KAPUAS HULU – Di era 2026, masih ada warga di Kabupaten Kapuas Hulu yang harus berjalan kaki 7 jam hanya untuk membeli beras dan kebutuhan pokok. Ironisnya, itu terjadi di Dusun Landau Kaloi, Desa Batu Tiga, Kecamatan Bunut Hulu.
Keterisolasian ini sudah berlangsung lebih dari 10 tahun. Penyebabnya sederhana jalan darat rusak parah dan jalur sungai mati saat kemarau.
Keluhan itu disampaikan langsung oleh Paulus Ujang Sukiman, warga Dusun Landau Kaloi, Rabu (26/8/2026).
Menurut Paulus, warga Batu Tiga selama ini hanya punya 2 pilihan akses menuju pusat kecamatan dan luar desa jalur sungai dan jalur darat. Namun keduanya tidak bisa diandalkan sepanjang tahun.
“Jalur sungai melalui Sungai Mentebah, Desa Batu Tiga, tidak dapat menjadi akses yang mudah digunakan ketika debit air menurun akibat musim kemarau,” jelasnya.
Saat musim kemarau tiba, debit Sungai Mentebah turun drastis. Perahu motor tidak bisa masuk. Distribusi sembako, BBM, gas, hingga obat-obatan terhenti.
Sementara itu, akses jalan darat yang sebenarnya sudah dibuka sejak 2015 justru terbengkalai.
“Jalan darat dibuka pada tahun 2015 sampai sekarang belum pernah diperbaiki,” ujar Paulus dengan nada kecewa.
Akibat dua akses itu buntu, warga tidak punya pilihan lain. Mereka harus berjalan kaki menembus hutan dan jalan rusak.
“Kalau musim kemarau, akses melalui sungai sulit. Masyarakat harus jalan kaki sekitar tujuh jam mencari logistik ke Nanga Dua dari Batu Tiga,” ungkap Paulus.
7 jam perjalanan itu ditempuh untuk sekadar membeli kebutuhan sehari-hari. Bayangkan ibu-ibu menggendong beras, bapak-bapak memikul minyak dan gas dengan berjalan kaki sejauh itu.
Dampaknya sangat luas. Harga barang di Batu Tiga menjadi 2-3 kali lipat lebih mahal dari harga normal. Anak sekolah sering terlambat. Pasien sakit harus ditandu berjam-jam untuk dirujuk ke puskesmas.
Aktivitas ekonomi warga, yang sebagian besar bertani dan berkebun, juga lumpuh karena hasil pertanian sulit dipasarkan keluar.
Warga sebenarnya tidak menuntut jalan mulus beraspal. Mereka hanya minta jalan yang sudah dibuka 10 tahun lalu itu disentuh dan diperbaiki.
Jalan sepanjang ruas Landau Kaloi – Nanga Dua ini merupakan satu-satunya harapan warga untuk keluar dari keterisolasian.
Tanpa perbaikan, maka setiap tahun saat kemarau tiba, Batu Tiga akan kembali terputus dari dunia luar.
Paulus berharap suara warga pedalaman ini didengar hingga ke tingkat pusat.
“Kami berharap pemerintah daerah kabupaten, provinsi maupun pusat bisa membangun kembali jalan yang sudah lama tidak tersentuh sampai sekarang,” harapnya.
Menurutnya, perbaikan jalan bukan sekadar soal infrastruktur. Ini menyangkut hak dasar warga untuk hidup layak.
“Perbaikan akses jalan sangat penting untuk mendukung mobilitas masyarakat, distribusi kebutuhan pokok, serta meningkatkan aktivitas ekonomi warga di wilayah pedalaman Kecamatan Bunut Hulu,” tegas Paulus.
Desa Batu Tiga terletak jauh di pedalaman Kapuas Hulu. Akses yang buruk membuat program pemerintah seperti kesehatan, pendidikan, dan ekonomi sulit masuk.
Warga menilai, jika pemerintah serius membangun dari pinggiran, maka Batu Tiga harus menjadi prioritas.
Mereka tidak minta banyak. Hanya satu bangun kembali Jalan Landau Kaloi – Nanga Dua. Agar anak-anak bisa sekolah tepat waktu, pasien bisa dirujuk cepat, dan warga tidak lagi harus jalan kaki 7 jam demi sekantong beras.
“Kami sudah 10 tahun menunggu. Tolong, jangan lupakan kami lagi,” pungkas Paulus Ujang Sukiman.