NEW YORK, Detiktoday.com – Ketua Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/ The Fed) yang akan datang, Kevin Warsh, awalnya diprediksi membawa misi untuk menurunkan suku bunga. Namun, demi membangun kredibilitas di mata pasar, ia justru diperkirakan terpaksa mendesak kenaikan suku bunga ke level yang lebih tinggi.
Peringatan tersebut disampaikan oleh veteran pasar keuangan sekaligus Kepala Yardeni Research, Ed Yardeni. Menurutnya, jika pemimpin baru The Fed tersebut gagal menunjukkan sinyal bahwa para pembuat kebijakan waspada terhadap tekanan inflasi, bank sentral berisiko menghadapi kemarahan pasar yang lebih besar dalam bentuk lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah (US Treasury).
Yardeni merupakan sosok legendaris di Wall Street yang mencetuskan istilah “Bond Vigilantes”. Sebutan ini digunakan untuk para investor obligasi yang melakukan aksi protes massal dengan cara menjual obligasi demi memaksa pemerintah atau bank sentral mengubah kebijakan ekonominya.
“Warsh dijadwalkan memimpin rapat komite kebijakan moneter (FOMC) pada Juni mendatang. Namun, siapa sebenarnya yang memegang kendali kebijakan saat ini? Kami menilai kendali itu ada di tangan para Bond Vigilantes,” tulis Yardeni dalam nota risetnya yang dikutip CNBC internasional, Senin (18/5/2026).
Ia menambahkan, di internal komite pandangan Warsh yang cenderung longgar (dovish) sebenarnya minoritas. Namun, statusnya sebagai ketua baru dan reaksi buruk pasar obligasi terhadap sikap longgarnya membuat posisi Warsh terjepit.
Guncangan Pasar Obligasi dan Kebangkitan Inflasi
Yield obligasi pemerintah AS melonjak tajam pada Jumat (15/6/2026), di mana obligasi berdurasi 30 tahun melesat melewati angka 5% yang merupakan level tertinggi dalam hampir setahun terakhir.
Pada Senin pagi waktu setempat, pergerakannya mendatar di kisaran 5,138%. Sementara itu, yield obligasi berdurasi dua tahun yang sensitif terhadap arah suku bunga The Fed bergerak turun tipis ke level 4,07%.
Sebelum resmi menjabat, Warsh berulang kali menyatakan ia yakin The Fed bisa memangkas suku bunga acuan dari kisaran targetnya saat ini yaitu 3,5% hingga 3,75%.
Namun, peta ekonomi berubah total. Lonjakan inflasi terbaru, yang sebagian besar dipicu oleh pecahnya perang di Iran serta beberapa faktor fundamental lainnya, memaksa pelaku pasar mendesain ulang ekspektasi mereka.
Kondisi kian rumit dengan kehadiran Warsh. Pasar kini tidak hanya tidak percaya bahwa The Fed akan memangkas suku bunga, melainkan peluang terjadinya kenaikan (rate hike) justru merangkak naik. Berdasarkan data dari perangkat FedWatch milik CME Group, peluang kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini kini menyentuh angka 42%.
Skenario Kejutan pada Juli
Yardeni memprediksi langkah pengetatan akan terjadi jauh lebih cepat. Meskipun ia memperkirakan The Fed masih akan menahan suku bunga pada pertemuan bulan Juni, kenaikan sebesar 25 basis poin (0,25%) disebut berpeluang besar terjadi pada Juli 2026.
Sebagai langkah awal pada Juni, Yardeni menilai The Fed di bawah kendali Warsh harus menghapus kalimat forward guidance (panduan kebijakan ke depan) dalam pernyataan resminya yang selama ini diartikan pasar bahwa langkah The Fed selanjutnya adalah pemangkasan suku bunga.
“The Fed harus mengejar ketertarikan pasar obligasi agar tidak kehilangan kendali atas biaya pinjaman riil dan untuk meredam amarah para Bond Vigilantes. Langkah kejutan berupa kenaikan suku bunga acuan secara mendadak justru berpotensi menyenangkan pasar,” jelas Yardeni.
Yardeni berargumen bahwa dengan mengambil sikap agresif (hawkish) lebih awal, Warsh justru memiliki kesempatan untuk mewujudkan apa yang sebenarnya diinginkan oleh Gedung Putih: menurunkan biaya pinjaman di dunia nyata.
“Jika inflasi terkendali, suku bunga KPR bisa turun, pembiayaan korporasi akan lebih longgar, dan Presiden Trump dapat mengeklaim penurunan yield jangka panjang sebagai kemenangan ekonominya,” pungkas Yardeni.
Prediksi Yardeni mengenai kenaikan suku bunga pada Juli ini terhitung sangat berani dan berada di luar konsensus arus utama. Sebab, meski peluang kenaikan di akhir tahun terus meningkat, data FedWatch menunjukkan probabilitas pasar untuk kenaikan di bulan Juli saat ini baru berada di angka 4,2%.
Istilah “Bond Vigilantes” pertama kali diperkenalkan oleh Ed Yardeni pada 1980-an untuk menggambarkan kekuatan besar para investor di pasar obligasi. Ketika para investor ini merasa bahwa kebijakan moneter bank sentral terlalu longgar atau anggaran pemerintah terlalu boros sehingga memicu inflasi, mereka akan melakukan aksi jual massal obligasi pemerintah.
Sesuai hukum pasar, aksi jual massal ini membuat harga obligasi jatuh dan mengerek imbal hasilnya (yield) ke atas. Karena yield obligasi pemerintah menjadi acuan bagi suku bunga KPR, kredit kendaraan, hingga utang korporasi, lonjakan yield otomatis akan mencekik perekonomian riil.
Pada 2026, fenomena ini kembali bangkit akibat Perang Iran yang mengganggu pasokan minyak bumi dan memicu inflasi global. Pemerintahan Donald Trump awalnya menunjuk Kevin Warsh dengan harapan ia akan memotong suku bunga demi memacu pertumbuhan ekonomi. Namun, inflasi yang tinggi membuat rencana tersebut berbahaya.
Jika Warsh nekat memotong suku bunga di tengah inflasi yang tinggi, para Bond Vigilantes akan mengamuk dan menaikkan biaya pinjaman di pasar secara paksa. Inilah dilema besar yang dihadapi The Fed, yakni terpaksa bertindak kejam (hawkish) dengan menaikkan suku bunga secara resmi demi menenangkan pasar dan mencegah suku bunga riil melompat terlalu tinggi.