BI Ungkap Tiga Jalur Dampak Perang ke Indonesia

BI Ungkap Tiga Jalur Dampak Perang ke Indonesia

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Bank Indonesia (BI) mengidentifikasi tiga jalur utama yang berpotensi menyalurkan tekanan ekonomi global akibat konflik di Timur Tengah ke dalam negeri, yakni sektor finansial, komoditas, dan perdagangan. Mitigasi berlapis disiapkan agar rambatan ketidakpastian global tersebut tidak mengganggu stabilitas ekonomi domestik.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa jalur pertama melalui sektor finansial. Tekanan global memicu investor memindahkan aset ke negara aman (safe haven), yang berakibat pada penguatan indeks dolar AS dan tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang (emerging market).

“Sehingga mendorong terjadinya capital outflow untuk emerging market, termasuk Indonesia,” ucap Destry dalam Kick Off Percepatan Intermediasi Nasional (Pinisi) di Grha Bhasvara Icchana, Bank Indonesia pada Senin (27/4/2026).

Jalur kedua adalah komoditas. Eskalasi konflik di Timur Tengah berisiko menghambat rantai pasok energi. Meski kontribusi Selat Hormuz hanya 20% dari total minyak dunia, dampaknya dapat meluas ke komoditas lain seperti emas hingga batu bara.

“Sehingga (dampak) itu meluas sehingga meningkatkan harga bukan hanya minyak tetapi komoditi lainnya. Mulai dari emas hingga batu bara,” kata Destry.

Jalur ketiga yakni perdagangan, di mana hambatan transportasi dan logistik global. Hal ini berpotensi mengganggu suplai perdagangan antarnegara.

Kendati demikian, BI tetap optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai 5,4% pada triwulan I-2026. Namun pemerintah tidak bisa berpangku tangan atau berpuas diri, tetapi harus tetap memperkuat sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dari dalam negeri.

“Oleh karena itu kami melihat bahwa apa yang terjadi  dalam dua bulan terakhir makin mempertegas bahwa kita harus memperkuat ekonomi domestik. Karena memang sebenarnya ekonomi Indonesia itu adalah domestic economic oriented,” tutur Destry.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia. (Ilustrasi: Investor Daily/Datasatu.com)

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan konsumsi rumah tangga menyumbang 53,88% terhadap pertumbuhan ekonomi, diikuti investasi sebesar 28,77% selama tahun 2025. Ke depan, tren di sektor korporasi juga menunjukkan optimisme untuk terus meningkatkan kapasitas ekonomi.

“Kalau kita lihat dari sisi korporasi, sebenarnya bagus. Trennya masih terus naik in termasuk juga penjualan dan capex-nya meningkat. Bahkan kredit (investasi) di capex itu naiknya 21%. Ini menjadi hal bahwa investasi untuk meningkatkan kapasitas ekonomi masih terjadi,” terang Destry.

Sebagai langkah konkret, BI mengoptimalkan “Program Pinisi” sebagai wadah untuk menghubungkan sisi permintaan (demand) korporasi dan konsumen dengan sisi penawaran (supply) likuiditas perbankan. Program ini diharapkan menjadi katalis penggerak sektor riil untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Share