Jakarta, Detiktoday.com – Anggota Komisi IV DPR RI Rokhmin Dahuri mendorong pengembangan inovasi garam kristal di Kecamatan Juntinyuat, Indramayu, sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat pesisir.
Menurutnya, terobosan produksi garam kristal yang dikelola Yayasan Sas Nalendra Darma Raga bersama kelompok petambak setempat memiliki potensi besar meningkatkan kesejahteraan petani garam dan memperkuat kemandirian garam nasional.
“Buat saya ini breakthrough atau terobosan yang bagus. Selama ini produksi garam dengan metode konvensional melalui penguapan biasa hanya sekitar 70 ton per hektare per tahun,” ujar Prof. Rokhmin saat meninjau lokasi produksi garam kristal di Juntinyuat, dikutip Sabtu (9/5/2026).
Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004 itu menjelaskan, inovasi garam kristal harus ditopang oleh empat pilar utama agar tidak berhenti sebatas eksperimen. Pilar pertama adalah efisiensi tinggi melalui metode produksi yang lebih produktif dibanding cara tradisional.
Pilar kedua adalah orientasi bisnis. Menurutnya, inovasi hanya akan bertahan apabila mampu memberikan keuntungan nyata bagi petambak. Fokus utamanya ialah memastikan masyarakat pesisir memperoleh nilai tambah secara ekonomi dari pengembangan teknologi tersebut.
Pilar ketiga ialah dukungan pemerintah. Prof. Rokhmin menilai pemerintah tidak harus menjadi pelaku bisnis, tetapi berperan sebagai penghubung antara inovasi lokal dan industri besar agar hasil produksi masyarakat memiliki pasar yang jelas.
Sementara pilar keempat adalah kemandirian nasional. Ia berharap garam kristal Indramayu dengan kualitas yang semakin baik dapat memenuhi kebutuhan industri dalam negeri sehingga ketergantungan impor garam bisa ditekan.
Prof. Rokhmin menegaskan dunia inovasi perikanan dan kelautan terus berkembang untuk mengejar efisiensi hasil produksi. Ia mencontohkan berbagai intervensi teknologi yang telah diterapkan pemerintah, mulai dari penggunaan geomembran hingga teknik ulir, terbukti meningkatkan produktivitas tambak garam.
“Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam 10 tahun terakhir mencoba metode lain seperti geomembran dan teknik ulir. Itu bisa meningkatkan produktivitas menjadi sekitar 120 ton per hektare per tahun,” ucapnya.
Ketua Umum Gerakan Nelayan Tani Indonesia itu optimistis inovasi garam kristal mampu melampaui capaian metode sebelumnya apabila diterapkan secara luas di berbagai daerah pesisir.
“Menata kesejahteraan dari butiran garam yang selama ini dianggap sederhana,” tegas Rektor Universitas UMMI Bogor tersebut.
Meski demikian, Prof. Rokhmin mengingatkan masih banyak hasil penelitian di Indonesia yang berhenti di tahap invensi karena kurangnya dukungan hilirisasi dan komersialisasi. Ia menilai pemerintah perlu memperkuat ekosistem industri agar inovasi masyarakat dapat berkembang menjadi usaha nyata.
“Kalau tidak ada dukungan komersialisasi, inovasi bisa mandek. Pemerintah harus memperkuat hilirisasi agar prototipe masyarakat berkembang menjadi industri nyata,” tegas Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University itu.
Menurutnya, penerapan teknologi garam kristal di Indonesia masih terbatas dan baru ditemukan di beberapa wilayah Indramayu seperti Losarang dan Krangkeng. Karena itu, ia berjanji akan membawa potensi tersebut ke tingkat kementerian agar memperoleh dukungan program yang lebih intensif.
“Kalau tidak dibantu, inovasi seperti ini bisa tidak berkembang, agar tidak dibiarkan berjalan sendiri,” ujarnya.
Kini, garam kristal Juntinyuat tidak hanya menjadi simbol peningkatan produktivitas tambak, tetapi juga harapan baru bagi kebangkitan ekonomi masyarakat pesisir melalui inovasi berbasis teknologi lokal.