Analis ING dalam risetnya menyebut, mandeknya negosiasi damai meningkatkan ketidakpastian pasar dalam jangka pendek. “Risiko inflasi tetap tinggi dan memperkuat pandangan suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama, yang selama ini membebani pergerakan emas,” tulis ING.
Meski demikian, ING masih mempertahankan proyeksi harga emas berpotensi mencapai US$ 5.000 per ons troi pada akhir tahun.
Di sisi lain, sejumlah lembaga keuangan global mulai memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga AS tahun ini. Sebagian analis bahkan memperkirakan tidak ada penurunan suku bunga hingga 2026.
Kondisi suku bunga tinggi biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena meningkatkan opportunity cost aset tanpa imbal hasil tersebut.
Pasar juga mencermati agenda kunjungan dua hari Trump ke China pekan ini untuk bertemu Presiden China Xi Jinping. Pertemuan tersebut diperkirakan membahas isu Iran, Taiwan, kecerdasan buatan (AI), hingga senjata nuklir.
Sementara itu, saham peritel perhiasan di India melemah setelah Perdana Menteri Narendra Modi meminta masyarakat menahan pembelian emas selama satu tahun demi menjaga cadangan devisa negara. India merupakan konsumen emas terbesar kedua di dunia.
Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot melonjak 7,18% menjadi US$ 86,11 per ons, platinum naik 3,72% ke US$ 2.135,35, dan paladium menguat 0,9% menjadi US$ 1.508,8 per ons.