Gudang Garam (GGRM) Beri Kejutan, Saham Siap Sprint

PBV Cuma 0,5 Kali, Laba Terbang 1.300%, Saham Diramal ke Sini

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – KB Valbury Sekuritas menyoroti saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) untuk perdagangan Senin (18/5/2026) pekan depan. Broker efek ini merekomendasikan trading buy saham GGRM.

Titik masuk yang dianjurkan di saham Gudang Garam (GGRM) di kisaran 16.650-17.225. Target harga yang ditetapkan di 17.625 dan stoploss di bawah level 15.675.

Saham GGRM sendiri loncat 3,61% ke Rp 17.225 pada perdagangan Rabu (13/5/2026). Investor asing membukukan net buy di saham emiten rokok ini Rp 10,32 miliar.

Dalam sebulan terakhir, saham Gudang Garam melambung 17,98% dengan investor asing mencetak angka net buy Rp 80,99 miliar.

Meski demikian, rasio price to book value (PBV) GGRM hanya 0,52 kali dan price earning ratio (PER) 11,08 kali (TTM). Nilai kapitalisasi pasarnya Rp 33,14 triliun.

Di sisi lain, Gudang Garam mencetak laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 1,53 triliun sepanjang kuartal I-2026. Angka laba bersih itu terbang dari 1.300% Rp 104,43 miliar pada periode yang sama tahun 2025.

Performa laba bersih GGRM yang kuat pada kuartal I-2026 didukung oleh ekspansi margin laba kotor menjadi 16% dibandingkan kuartal I-2025 yang sebesar 9%.

“Kami menilai kenaikan margin laba kotor tersebut kemungkinan didorong oleh kenaikan harga jual, tercermin dari penurunan proporsi cukai terhadap pendapatan menjadi 71% dibandingkan kuartal I-2025 sebesar 74%,” tulis Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Everson Sugianto dalam catatannya, Kamis (30/4/2026).

Dia mengungkapkan bahwa berdasarkan observasi dari harga rokok Gudang Garam (GGRM) pada Maret 2026, terjadi kenaikan harga di produk sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret kretek tangan (SKT).

“Setiap kenaikan harga jual rata-rata akan langsung berdampak pada margin, mengingat tidak ada kenaikan tarif cukai pada tahun ini,” jelas Everson.

Selain itu, akun beban pokok pendapatan lainnya juga turun 34% yoy, seiring penurunan biaya bahan baku dan efek inventory movements.

Ekspansi margin laba kotor mampu mengkompensasi penurunan pendapatan GGRM sebesar 13% yoy, dengan pendapatan segmen SKM dan SKT masing-masing turun 13% yoy dan 18% yoy. Sedangkan pendapatan dari segmen konstruksi justru melejit 139% yoy.

Share