Kinerja Positif Perbankan Nasional Tunjukkan Fundamental yang Kuat

Kinerja Positif Perbankan Nasional Tunjukkan Fundamental yang Kuat

Share
Share

‎Jakarta, Detiktoday.com – Konsultan dan Perencana Keuangan Elvi Diana CFP menilai kinerja intermediasi perbankan nasional yang tetap resilien di tengah tekanan ekonomi global menunjukkan fundamental sektor perbankan Indonesia masih relatif kuat, khususnya pada bank-bank besar milik negara seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

‎Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan kinerja intermediasi perbankan domestik tetap tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga di tengah gejolak ekonomi global yang memicu lonjakan harga energi dan meningkatnya volatilitas pasar keuangan internasional. OJK mencatat pada Maret 2026 kredit perbankan tumbuh 9,49 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp8.659,05 triliun, meningkat dibanding Februari 2026 yang tumbuh 9,37 persen yoy. Pertumbuhan tersebut salah satunya ditopang oleh kelompok Bank Umum Milik Negara (BUMN).

‎Menanggapi hal tersebut, Elvi Diana menyatakan kemampuan bank BUMN menjaga pertumbuhan kredit dan profitabilitas tidak terlepas dari struktur bisnis yang kuat, dukungan negara, serta kemampuan menjaga kepercayaan publik di tengah ketidakpastian global.

‎“Dalam teori intermediasi keuangan, bank yang memiliki basis dana murah kuat dan jaringan pembiayaan luas, sehingga bisa lebih adaptif menghadapi tekanan ekonomi eksternal. Bank-bank BUMN seperti BRI memiliki keunggulan itu,” ujar Elvi dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).

‎Elvi menjelaskan, salah satu faktor utama yang membuat BRI mampu mempertahankan kinerja positif adalah dominasi dana murah atau current account saving account (CASA) yang memperkuat efisiensi biaya dana. Kondisi tersebut membuat margin bunga bersih tetap terjaga meski terjadi tekanan suku bunga global.

‎Menurut Elvi, hal itu sejalan dengan teori bank efficiency structure yang dikemukakan Demsetz (1973), bahwa lembaga keuangan dengan efisiensi operasional tinggi cenderung memiliki profitabilitas dan daya tahan lebih baik dibanding kompetitor dalam situasi krisis maupun ketidakpastian ekonomi.

‎“BRI memiliki kekuatan pada sektor UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi domestik. Ketika ekonomi global bergejolak, permintaan kredit berbasis konsumsi dan usaha rakyat di dalam negeri masih mampu menopang pertumbuhan intermediasi,” katanya.

‎Ia menambahkan, diversifikasi portofolio kredit juga menjadi faktor penting yang menjaga kualitas aset perbankan tetap terkendali. Dengan sebaran kredit yang luas, risiko konsentrasi pembiayaan dapat diminimalkan sehingga profil risiko tetap sehat.

‎Elvi juga menyoroti keberhasilan transformasi digital perbankan BUMN yang meningkatkan efisiensi layanan dan memperluas inklusi keuangan. Menurutnya, digitalisasi memperkuat kemampuan bank dalam menghimpun dana masyarakat sekaligus menekan biaya operasional.

‎“Teori financial resilience menjelaskan bahwa institusi keuangan yang mampu beradaptasi melalui inovasi teknologi dan penguatan manajemen risiko akan lebih mampu bertahan dalam tekanan ekonomi global,” ujarnya.

‎Dalam konteks kinerja keuangan, Elvi mengungkapkan bahwa BRI berhasil mencatat pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar Rp40,155 triliun pada kuartal I-2026 atau tumbuh 11,9 persen secara tahunan. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan fungsi intermediasi BRI masih berjalan sangat baik di tengah volatilitas global.

‎“Kenaikan NII menunjukkan kemampuan bank menjaga keseimbangan antara penyaluran kredit dan penghimpunan dana masyarakat. Ini menjadi indikator penting bahwa fundamental bisnis perbankan masih solid,” kata Elvi.

‎Lebih lanjut, ia menilai ketahanan bank-bank BUMN juga dipengaruhi oleh tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi keuangan milik negara. Dalam teori behavioral finance, kepercayaan publik merupakan faktor penting dalam menjaga stabilitas sistem keuangan, terutama ketika pasar global sedang mengalami ketidakpastian.

‎Karena itu, Elvi optimistis sektor perbankan nasional masih memiliki ruang pertumbuhan positif sepanjang 2026, selama stabilitas makroekonomi domestik tetap terjaga dan permintaan kredit produktif terus meningkat.

‎“Selama konsumsi domestik, sektor UMKM, dan investasi pemerintah tetap berjalan, bank-bank BUMN seperti BRI masih berpotensi menjadi motor utama pertumbuhan intermediasi perbankan nasional,” pungkasnya.

Share