Siap-siap Harga Emas Bisa Tembus Segini

Tren Harga Emas Setahun ke Depan Bakal Begini

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Bank asal Kanada, TD Securities mempertahankan proyeksi optimis pada harga emas dunia untuk jangka panjang.

Dikutip dari Kitco News, Kamis (4/6/2026), bank asal tersebut memperkirakan rata-rata harga emas akan kembali melejit ke level US$ 5.350 per troy ounce pada kuartal kedua 2027, naik 7% dari perkiraan sebelumnya.

“Kami memperkirakan tekanan inflasi akan mereda setelah perang di Iran berakhir, yang akan memungkinkan suku bunga turun, dolar AS melemah, dan investor sekali lagi membicarakan perdagangan pelemahan mata uang. Kekhawatiran akan represi keuangan, meningkatnya risiko geopolitik, dan pembelian yang lebih kuat oleh investor dan bank sentral dapat mendorong harga emas diperdagangkan di sekitar US$ 5.350/ons pada kuartal kedua tahun 2027,” kata  analis komoditas di TD Securities, Bart Melek.

Namun, TD Securities memprediksi harga emas akan melanjutkan tren koreksi pada paruh kedua 2026, seiring fluktuasi harga di level US$ 4.500 per troy ounce dalam beberapa hari terakhir.

Bank tersebut memproyeksi rata-rata harga emas pada kuartal ketiga 2026 akan mencapai sekitar US$ 4.550 per troy ounce, menurun 3% dari perkiraan sebelumnya.

Adapun, TD Securities juga memperkirakan rata-rata harga emas hanya akan berdiri di level US$ 4.700 per troy ounce pada kuartal terakhir 2026, turun 10% dari proyeksi sebelumnya.

Bart Melek menjelaskan, prospek harga emas di 2026 terdampak sentimen terkait risiko lonjakan inflasi Amerika Serikat yang memperbesar ruang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

“Ekspektasi inflasi yang tinggi, terkait dengan guncangan pasokan telah mendorong imbal hasil di seluruh kurva lebih tinggi, menjaga dolar AS tetap kuat, dan mendorong pasar untuk mulai memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed pada akhir 2026,” papar Bart Melek.

TD Securities juga membuka peluang bahwa harga emas bisa menguji level support di US$ 4.000 per troy ounce jika harga minyak berdiri di atas US$ 100 per barel, yang menurut mereka merupakan skenario yang mungkin terjadi.

Share