JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas dunia diperkirakan masih berada dalam fase rentan pada pekan ini, setelah mencatat penurunan tajam lebih dari 4,7% sepanjang pekan lalu. Penguatan data ekonomi Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed membuat logam mulia kehilangan daya tariknya sebagai aset lindung nilai.
Harga emas ditutup ambrol 3,26% ke level US% 4.329,33 per ons troi pada perdagangan Jumat (5/6/2026), menyentuh level terendah sejak Desember 2025. Tidak hanya itu, harga emas dunia menghapus seluruh keuntungan yang telah dibukukan sepanjang tahun ini dan berbalik turun 0,4% secara year to date (ytd), mengingat pada 1 Januari 2026 harga emas berada di level US$ 4.348 per ons troi.
Senior Technical Strategist Forex.com Michael Boutros menilai, pergerakan harga emas saat ini berada di titik krusial yang akan menentukan arah tren berikutnya. Menurut dia, level US$ 4.319 per ons troi menjadi area penting yang harus dipertahankan oleh emas untuk mencegah tekanan jual yang lebih dalam.
“Harga emas sedang menguji support utama di area US$ 4.319 per ons troi. Reaksi pasar pada level ini akan menjadi penentu apakah koreksi mulai mereda atau justru berkembang menjadi penurunan yang lebih besar,” ujar Michael Boutros dalam riset terbarunya, Minggu (7/6/2026).
Boutros menjelaskan, tekanan terhadap emas meningkat setelah data Non-Farm Payrolls (NFP) AS dirilis lebih kuat dari perkiraan. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar menyesuaikan kembali ekspektasi suku bunga dan memperkuat dolar AS, yang pada akhirnya membebani harga emas.
Menurut Boutros, jika harga emas gagal bertahan di atas level US$ 4.319 per ons troi dan ditutup di bawah area tersebut, maka peluang penurunan menuju support berikutnya di sekitar US$ 4.195 per ons troi hingga US$ 4.112 per ons troi akan semakin terbuka.
“Penutupan harga di bawah US$ 4.319 per ons troi dapat memicu gelombang pelemahan berikutnya. Namun area US$ 4.195 per ons troi hingga US$ 4.112 per ons troi juga berpotensi menjadi zona kelelahan tren turun yang dapat memunculkan rebound teknikal,” kata dia.
Tunggu Data Inflasi