Harga Emas Siap Melaju Kencang ke Titik Ini

Tren Harga Emas Pekan Depan Bakal Begini

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com –  Harga emas dunia diprediksi kembali bergerak fluktuatif dalam sepekan ke depan. 

Pengamat pasar komoditas logam mulia, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas dunia kembali menurun dan bergerak di support pertama US$ 4.264 per troy ounce, dan bisa kembali ambles ke support kedua US$ 4.153 per troy ounce. 

Adapun harga logam mulia (emas Antam) yang juga diprediksi kembali ambrol ke support pertama Rp 2.708.000 per gram dan support kedua Rp 2.630.000 per gram. 

“Namun seandainya menguat, resistance pertama harga emas dunia di US$ 4.384  per troy ounce dan logam mulia di Rp 2.768.000 per gram. Apabila menguat lagi, resistance kedua harga emas di US$ 4.560 per troy ounce dan logam mulia (emas Antam) di Rp 2.830.000 per gram,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya pada Minggu (7/6/2026). 

“Jadi dalam sepekan ke depan, harga emas dunia kemungkinan besar akan diperdagangkan di US$ 4.153 per troy ounce sampai di US$ 4.560 per troy ounce,” bebernya.

Ibrahim menjelaskan, pergerakan harga emas dua dilemahkan oleh sentimen geopolitik, di mana konflik di Timur Tengah kembali memanas, terutama adalah di kawasan Selat Hormuz.

“Geopolitik baik di Eropa Timur maupun di Timur Tengah kemungkinan sampai akhir tahun 2026 belum akan mereda, sehingga pada 2027-2028 mendatang belum bisa dikatakan bahwa geopolitik akan reda dan selesai,” Ibrahim menyebutkan. Menurutnya, faktor ini yang menjadi prospek reli harga emas tidak bisa berlanjut.

Kemudian, harga emas juga akan dipengaruhi oleh kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve. Rilis kinerja positif ketenagakerjaan AS yang dirilis baru-baru ini memerluas ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi dan menaikkan suku bunga di kuartal ketiga 2026.

“Hal ini yang membuat dolar AS kembali mengalami penguatan sehingga berdampak terhadap penurunan harga emas dunia,” ucap Ibrahim.

“Pada saat yang sama, saat harga fisik emas relatif lebih murah. bank sentral global terus melakukan pembelian untuk menambah devisa logam mulianya. Pembelian terutama dilakukan oleh bank sentral

di Tiongkok, India, Afrika Selatan, negara-negara Eropa hingga Amerika Latin,” ia menyoroti.

Share