Wall Street Melemah, Pasar Lagi Deg-deganWall Street Melemah, Pasar Lagi Deg-degan

Wall Street Melemah, Nasdaq Jatuh 4 Hari BeruntunWall Street Melemah, Nasdaq Jatuh 4 Hari Beruntun

Share
Share

NEW YORK, Detiktoday.com – Indeks-indeks saham Wall Street mayoritas ditutup melemah pada perdagangan Kamis (25/6/2026). Indeks Nasdaq kembali melemah dan mencatat penurunan selama empat hari berturut-turut, seiring aksi jual saham-saham teknologi yang dipimpin Apple.

Dikutip dari CNBC Internasional, di sisi lain, Dow Jones masih mampu menguat hingga menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) intraday baru berkat penguatan saham sektor kesehatan, keuangan, dan industri.

Nasdaq Composite turun 0,46% ke level 25.358,60, sekaligus mencatat tren pelemahan empat hari beruntun untuk pertama kalinya sejak Februari. Indeks S&P 500 turun tipis 0,01% menjadi 7.357,49.

Sedangkan Dow Jones Industrial Average naik 71,72 poin atau 0,14% ke level 51.920,62.

Penguatan Dow Jones ditopang saham-saham sektor defensif. Johnson & Johnson naik sekitar 1%, sementara Caterpillar melonjak 6% dan menjadi salah satu pendorong utama kenaikan indeks.

Tekanan terbesar terhadap Nasdaq datang dari saham Apple yang anjlok 6% setelah perusahaan mengumumkan kenaikan harga produk MacBook dan iPad. Apple menyebut lonjakan biaya komponen, terutama chip semikonduktor, menjadi alasan penyesuaian harga tersebut.

Saham Microsoft juga turun 3,5% setelah mengumumkan kenaikan harga konsol Xbox. Aksi jual kemudian meluas ke saham-saham teknologi berkapitalisasi besar lainnya. Alphabet terkoreksi hampir 1%, sedangkan Meta Platforms melemah lebih dari 2%.

Pelaku pasar mulai mengkhawatirkan kenaikan harga chip akan menekan margin keuntungan perusahaan-perusahaan teknologi yang selama ini menjadi konsumen utama industri semikonduktor.

Manajer Portofolio Argent Capital Management Jed Ellerbroek mengatakan, kenaikan harga chip berpotensi memicu kenaikan harga berbagai produk elektronik. “Hampir semua barang elektronik yang menggunakan semikonduktor, mulai dari televisi hingga mobil, kemungkinan akan mengalami kenaikan harga,” ujarnya.

Menurut dia, tekanan inflasi pada rantai pasok teknologi mulai menimbulkan efek berantai. Meski demikian, daya beli konsumen dinilai masih cukup kuat untuk menyerap kenaikan harga tersebut.

Micron Melonjak

Share