JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas telah mengalami penurunan hingga 12% sejak konflik antara Amerika Serikat dan Iran pecah di Timur Tengah. Saat itu, emas terbebani oleh dolar AS yang terus menguat dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Terlepas dari adanya tren tersebut, ahli menilai prospek harga emas dalam jangka menengah tetap konstruktif.
Dikutip dari Goldinvest, Jumat (22/5/2026) Ahli Strategi Komoditas di ING, Ewa Manthey memproyeksi harga emas masih berpeluang kembali ke level US$ 5.000 per troy ounce pada akhir tahun 2026, didukung oleh permintaan bank-bank sentral yang kuat dan peningkatan aliran ETF.
Menurut Manthey, penurunan harga emas baru-baru ini terutama mencerminkan tren ekonomi makro yang bersifat sementara, di mana harga minyak melonjak, dolar AS yang lebih kuat, dan imbal hasil riil yang tinggi.
Setelah perang di Timur Tengah berakhir, dukungan terhadap emas akan kembali menguat, kata Manthey.
Dalam beberapa bulan mendatang, pakar ING tersebut juga memperkirakan potensi kenaikan harga emas sekitar 6% sebagai tingkat yang realistis.
Tak hanya ING, Goldman Sachs juga mengeluarkan proyeksi harga emas yang lebih optimis. Tim ahli komoditas yang dipimpin oleh Daan Struyven memperkirakan harga emas akan naik menjadi US$ 5.400 per troy ounce pada akhir 2026.
Struyven mengatakan, prospek optimis harga emas didukung oleh dua faktor. Pertama, bank sentral di seluruh dunia tetap berpegang pada strategi aksi beli.
Salah satunya, Bank Rakyat Tiongkok menambahkan 8 ton ke cadangan emas resmi pada bulan April, akuisisi bulanan tertinggi dalam lima belas bulan. Survei Goldman Sachs juga mencatat, sekitar 70% bank sentral yang diamati akan meningkatkan cadangan emas mereka selama 12 bulan ke depan.